Share

Kepala Labor Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Andalas melalui video conference dengan Bupati dan Walikota se-Sumbar menyampaikan, ada hal-hal yang harus diperhatikan bahwa Virus Corona itu merupakan salah satu virus yang sudah ada sejak lama. Sementara pada manusia juga sudah ada virusnya bernama Common Corona Virus, itu disebabkan influenza sekitar 15 %.

dr. Andani menerangkan lebih lanjut, lalu wabahnya sudah pernah menyebar sekitar tahun 2010 dengan sebutan Middle East Respiratory Syindrome (MERS) dan Savere Acute Respiratory Syindrome (SARS) 2002 silam dengan angka kematian MERS 4 % sementara SASRS 9-10 %.

“Semua kasus-kasus MERS maupun SARS itu berkembang dari hewan. Kondisi yang sama juga terjadi Desember tahun 2019 ditemukan infeksi corona pada salah seorang penduduk di Wuhan. Dari hasil ginetik, virus tersebut ditemukan pada kelelawar,” ujar dr. Andani.

dr. Andani juga mengatakan, kita lihat angka kematian, sebenarnya tidak terlalu besar hanya 3-4 % namun pada fase puncaknya akan bergeser 7-10 %. Seperti kita contohkan di Amerika Serikat, itu angka kematiannya bisa mencapai 500-2.500 per hari. Nah, inilah yang harus kita fahami.

Ini hanya terjadi pada fase eruksi semua negara di dunia, merekomendasi WHO ditunjukan semua negara sedunia berfikir untuk memutus rantai peredaran sehingga eruksi itu tidak terjadi. Inilah yang penting, harus kita pahami bersama.

“Yang paling penting dalam penanganan Covid ini adalah bagaimana kita bisa mencari orang-orang yang berpotensi sebagai penular. Semakin banyak orang-orang yang berpotensi sebagai penular yang ditemukan, pada dasarnya kasus positif tidak akan meningkat,” ungkap dr. Andani.

“Kita temukan orang-orang berpotensi hingga 100 orang maka jumlah positif tidak akan meningkat, apakah itu jelek? Nah, pada dasarnya itu tidak jelek, karena yang kita temukan itu adalah orang-orang berpotensi sebagai penular,” sambung dr. Andani.

Andani mengatakan dengan istilah “mana yang penting menangkap harimau dalam kandang atau mengkap harimau di jalan? Tentu yang paling penting adalah menangkap harimau di jalan”.

Itu bisa kita analogikan dengan kasus Covid-19, harimau dalam kandang adalah pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit, sedang harimau di jalan adalah orang orang yang berpotensi sebagai penular.

“Semakin banyak kita menangkap harimau di luar, sama artinya semakin banyak kita menangkap orang-orang berpotensi sebagai penular. Artinya, itu upaya yang terbaik kita lakukan dalam proses memutuskan rantai penularan. Nah, inilah data yang saya susun sendiri dari data WHO, sejak kasus ini mulai berkembang sampai saat ini,” ungkap dr.Andani.

Dalam penyampaiannya tersebut dihadiri oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat, Forkopimda serta beberapa OPD terkait pada Minggu (7/6).

loading...