Share

Oleh: Wulan Magdalen

Ketahanan pangan merupakan sesuatu yang penting pada masa pandemi Covid-19. Hal itu tidak hanya penting sebagai sumber pokok masyarakat, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi yang sedang berada di ujung krisis.

Indonesia sedang dibayang-bayangi resesi ekonomi. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan bahwa Indonesia memasuki zona resesi. Pemerintah telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020, yang berada pada kisaran minus 2,9 persen hingga minus 1,1 persen. Angka tersebut lebih dalam jika dibandingan dengan proyeksi awal, yaitu sebesar minus 2,1 persen hingga 0 persen.

Bertumpuknya produksi pangan dan distribusi yang tidak merata akibat pandemi ialah dua gejala yang bisa membuat nilai jual turun. Di satu daerah harga suatu barang menjadi terlalu mahal, sementara di daerah lain terlalu murah. Ketika pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan, banyak restoran dan kafe ditutup, sedangkan produksi pangan terus dilakukan sehingga hal itu menyebabkannya bertumpuk.

Ketakutan bepergian ke luar rumah juga menghambat perputaran ekonomi. Orang-orang hanya bertumpu pada satu bagian, misalnya menggunakan aplikasi daring yang memudahkan proses jual beli tanpa harus bertemu secara fisik. Padahal, toko-toko yang menjual kebutuhan pokok masih berjualan dan tetap dibebankan dengan hal lain, seperti gaji pegawai. Karena itu, tidak heran kita melihat banyak perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja karyawannya pada situasi sulit seperti ini. Pertanyaannya, apakah jual beli diarahkan semuanya ke daring agar dapat bertahan pada kondisi sekarang?

Akan tetapi, jual beli secara daring ternyata belum menyelesaikan masalah. Virus yang mudah menyebar membuat masyarakat menjadi paranoid. Segala hal dicurigai, segala benda yang kita beli dari luar ruangan disemprot cairan disinfektan. Akibatnya, tidak ada hal lain yang kita percayai selain diri kita sendiri. Virus itu telah mengubah keadaan sosial dan menuntut kita untuk menjadi lebih mandiri.

Produksi Pangan Mandiri

Agam Menyemai adalah program yang dicetuskan oleh Indra Catri ketika menjabat sebagai Bupati Agam. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengelola hasil ladang yang akan dijual dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan menggunakan slogan “Nan di laman untuak dimakan, nan di parak baok ka pakan”, program ini berusaha menggenjot produksi sawah, ladang, dan kebun masyarakat tanpa melupakan untuk memanfaatkan halaman atau pekarangan rumah dengan menanami tanaman produktif seperti sayuran dan buah-buahan yang cepat panen dan menghasilkan. Apa yang dilakukan Indra Catri di Agam semata-semata agar ketahanan pangan berjalan dengan baik. Jika ketahanan pangan baik, hidup masyarakat Agam menjadi lebih sejahtera.

Program Agam Menyemai yang telah dilakukan selama bertahun-tahun ini sukses dilakukan masyarakat di Agam. Kesuksesan program ketahanan pangan yang dilakukan Indra Catri itu diperlihatkan dengan terealisasinya target surplus beras dalam masa pandemi Covid-19, yang mencapai 14.980 ton. Pada Juli 2020 tercatat bahwa jumlah produksi beras di Agam mencapai 20.302,75 ton, dengan surplus 14.980 ton beras. Jumlah tersebut diprediksi terus meningkat hingga akhir tahun ini sesuai dengan target dan dorongan yang dilakukan Pemkab Agam terhadap kalangan petani di seluruh kabupaten. Itu merupakan hal yang baik karena sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian dalam pandemi Covid-19.

Ketika menjadi pembicara utama pada Sidang Regional Ketahanan Pangan di Surabaya pada 16—18 Mei 2016, Indra Catri mengatakan bahwa, “Upaya dalam urusan ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada peningkatan ketersediaan pangan, pemerataan distribusi pangan dengan harga terjangkau dan tercapainya pola konsumsi pangan yang aman, bergizi dan beragam, namun juga meningkatkan peran masyarakat dan pihak swasta dalam mendukung ketahanan pangan.”

Pada kondisi pandemi ini, ketika kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, program semacam itu merupakan cara terbaik untuk menjadi mandiri dengan memproduksi sendiri pangan keluarga, misalnya menanam sayuran atau buah-buahan.

Program itu memang diperuntukkan bagi masyarakat dan dijalankan oleh masyarakat, yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan peladang. Akan tetapi, program itu tentu saja bisa diadaptasi oleh daerah lain selain Agam, misalnya daerah urban, seperti Kota Padang. Meski tata ruang perumahan di Padang cenderung lebih padat, menanam di halaman sendiri bukanlah sebuah kendala besar sebab sudah banyak buku dan video-video yang bertebaran di jagat maya membahas mengenai bercocok tanam di ruang urban.

Selain sebagai cara untuk menjadi mandiri, program ini juga menganjurkan kita untuk menyukai kegiatan menanam. Secara tidak langsung, program ini juga ikut serta menjaga bumi agar tetap hijau. Pada era pemanasan global ini, kita memang dituntut untuk menyadari bahwa lingkungan hidup itu penting karena ketidakstabilan alam merupakan faktor utama terjadinya suatu bencana.

Program-program yang berfokus pada penguatan pangan masyarakat merupakan salah satu hal yang harus terus dikaji ulang dan diperkuat oleh pemerintah. Cara menyejahterakan rakyat ialah dengan cara memikirkan bagaimana perut mereka bisa terisi. Gerakan Agam Menyemai yang dicetuskan Indra Catri merupakan model yang patut dikembangkan, tidak hanya setingkat kabupaten/ kota, tetapi harus sampai ke tingkat provinsi.

loading...