Share

Peristiwa kelam yang terjadi di Wamena, Papua masih segar dalam ingatan masyarakat Sumatera Barat, khususnya perantau. Pasalnya, tragedi yang terjadi pada 23 September lalu itu menjadi momok yang menakutkan bagi perantau di daerah tersebut.

Setidaknya, 9 orang perantau Sumbar meninggal pada kejadian itu dan ada juga yang luka-luka. Ratusan perantau di Wamena meminta pulang kampung karena ketakutan.

“Masih jelas dalam ingatan saya, mereka minta tolong, minta dipulangkan dengan rasa takut yang luar biasa,” kenang Nasrul Abit pada Rabu (23/9).

Ketika sampai di Jayapura, Nasrul Abit bersama rombongan yang ditugaskan oleh Gubernur Sumbar bertemu langsung dengan 172 orang perantau Sumbar dan meminta pulang.

Pada waktu itu, Nasrul Abit dengan tegas menuturkan, siap memulangkan mereka, namun harus didata terlebih dahulu, agar keperluan untuk kembali ke Ranah Minang bisa dipersiapkan.

Dari kota tersebut, Nasrul Abit dan rombongan menuju Wamena, di mana peristiwa tersebut terjadi. Di sana, para perantau telah mendapat tempat berlindung di Markas Kodim Wamena.

“‘Tolong kami, Pak, kami mau pulang, kami takut di sini’. Begitu kata mereka kepada saya,” ujar Nasrul Abit mengingat kejadian itu.

Sebelum membawa pulang para perantau tersebut, terlebih dahulu Nasrul Abit bertemu secara langsung dengan Gubernur Papua, Lukas Enembe untuk meminta izin.

“Gubernur Papua sebetulnya keberatan melepas masyarakat untuk pulang, karena mereka dibutuhkan di sana,” jelas Nasrul Abit.

Namun, melihat ketakutan masyarakat dan mungkin trauma yang dialami, akhirnya Lukas mengizinkan masyarakat Sumbar pulang terlebih dahulu.

“Akhirnya, 864 masyarakat yang ada di Wamena pulang ke Sumbar secara bertahap dalam waktu singkat,” kata mantan Bupati Pesisir Selatan dua periode ini.

Nasrul Abit berterimakasih kepada semua pihak yang terlibat dan membantu Pemerintah Sumbar dalam mulai dari awal keberangkatannya ke Papua hingga bisa memulangkan masyarakat.

Salah seorang korban tragedi Wamena, yakni Putri (30) yang terluka cukup parah juga kemudian dipulangkan pada 10 Oktober 2019 setelah mendapat perawatan di Papua. Ia juga dijenguk oleh Nasrul Abit ketika itu di Papua dan memastikan Putri mendapatkan perawatan yang baik.

“Akhirnya saya sampai di kampung halaman,” katanya kala itu di pintu kedatangan domestik BIM.

Putri mendarat didampingi dua orang dari Ikatan Keluarga Minang Papua. Kedatangannya disambut Nasrul Abit dan juga oleh sanak keluarga Putri dari Kabupaten Pesisir Selatan.

loading...